Mungkinkah?

Mei 15, 2008 oleh elismurti

Tadi ditelp m.bambang, dikabarin bahwa “PELAKUNYA” adalah sigit dan dibantu oleh orang di selatannya. Siapa orang di selatannya? benarkah dia? kalau iya apa motivasinya? benarkah uang sangat berperan dalam hal ini? tidak adakah pertimbangan kemanusiaan? kalau memang dia apakah orang itu tidak mempertimbangkan sejauh mana dekatnya hubungan kel besar kami dengan kel besar dia? selama ini kami menganggap “dia” adalah orang yang sangat baik dan bersahabat, bahkan m.titik sendiri sering berkonsultasi ke sana. Dan dulu m.juni juga sangat hormat pada “dia” karena menganggap “dia” orang yang bisa dipercaya dan sering membantu.

Kalau memang “dia” pelakunya, terus terang kami akan sangat kecewa dan syok yang teramat sangat. ternyata kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja, seperti yang m.totok bilang baik di luarnya belum tentu baik di dalamnya. Betapa syoknya ibu, bagaimana tidak ibu begitu dekat dengan istrinya, bahkan kalau boleh diingat dulu waktu nikahannya m.titikpun “dia” yang ikut jadi panitianya. Bahkan pula m.titik malah kayak sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Kalau memang “dia” pelakunya ada apa ini? apakah ada sesuatu yang mengecewakan “dia” hingga tega berbuat seperti itu. Apakah atas nama profesionalitas dia melakukan hal tersebut? lantas apa yang harus kita lakukan? apakah kita akan melakukan seperti apa yang pernah mereka lakukan kepada kami? kalau iya apakah itu bukan berarti kami tidak berbeda dengan orang itu? tapi kalau kami diam saja kasihan m.titik dia sudah sangat menderita sampai terjadi hal seperti itu, dan alangkah berbahagianya orang itu telah berhasil “mengerjai” orang dan kami tahu siapa orangnya tapi kami diam saja..alangkah menyebalkan!!.

Tuhan tolong bantu emosi kami, kami tidak ingin menjadi seperti “orang itu”, kami hanya ingin ketenangan dan jalan yang lurus, kami ingin m.titik tenang di sana. Tuhan jangan biarkan kami berbuat dosa yang lebih besar lagi, kami tidak ingin dendam tapi kami ingin “orang itu” menyadari akan perbuatannya dan minta maaf pada kami terutama pada orang tua dan suami m.titik.

seminggu yang lalu

Mei 15, 2008 oleh elismurti

Seminggu sudah m.Titik meninggakan kami, masih terbayang jelas betapa kagetnya aku menerima kabar itu…dan sampai sekarang kadang aku merasa aku masih berada di alam mimpi, kadang aku nggak merasa sangat kehilangan tapi kadang aku sangat merasa kehilangan….saat merasa sangat kehilagan itulah aku pasti akan merasa nelongso banget… aku sesali kenapa semua ini harus terjadi? kenapa harus mbakku sing ayu ini yang harus mengalami hal semacam ini? mungkin kalau caranya wajar akan beda rasanya.

Aku tak bisa membayangkan beratnya beban yang dia rasakan,  sakitnya rasa yang dia rasakan hingga akhirnya dia mengambil jalan seperti itu. Aku yakin dia nggak sadar sepenuhnya dengan apa yang dia lakukan saat itu, karena type m.titik adalah type istri dan ibu yang sangat perhatian, mengabdi dan nggak mau membuat orang lain repot. Pasti m.titik sangat bingung saat itu, dan yang paling mengerikan adalah saat aku membayangkan kondisi dia saat “ITU” saat SENDIRIAN DI RUANGAN ITU!!. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan….

Tuhan tolong aku untuk melepaskan belenggu bayangan-bayangan itu!!.

Tuhan tolong terima m.Titik ke pangkuanMu, dia orang yang sangat baik, hanya kebetulan dia ketemu dengan orang yang tidak baik hingga semua ini terjadi….

Anakku sudah sembuh

Maret 3, 2008 oleh elismurti

Lega rasanya anakku sudah sembuh dari sakit…

Seperti yang pernah aku tulis di sini anak-anakku sakit mulai hari jumat (22 februari), saat itu mereka masih anget, baru pada malam harinya mulai aku kasih obat penurun panas. Badan mereka panas–bahkan nathan panasnya sampai 39,5 der cel–batuk dan bersin-bersin. Kondisi terparah hari minggu malam, mereka panas tinggi dan muntah-muntah, hampir semalaman mereka tidurnya nggak pules, bentar-bentar terbangun karena nggak enak badan dan batuk yang akhirnya muntah. Yang lebih mengkhawatirkan Ian, karena Ian nggak mau minum banyak…dikiiitt banget…yang biasanya semalam bisa 3 x 120 ml ini bakan 120 ml semalaman nggak habis…aku kawatir dia dehidrasi..karena panasnya tinggi banget. Kalau Nathan lumayan sering minta minum air putih..tapi tiap habis dikasih minum susu trus dia batuk pasti dia muntah.

Senin pagi aku bawa mereka ke dokter, mereka dikasih antibiotik..aku sudah bertekad nggak akan ngasih Nathan antibiotik karena nggak ada radang. Tapi kerana selasa siang panasnya tinggi banget maka terpaksa aku kasih dia AB. kalau Ian memang sejak awal aku kasih karena dia ada radang tenggorokan yang sudah agak parah. Selasa aku tidak masuk kerja karena aku nggak tega ninggal mereka dan yang pasti aku belum percaya ninggalin mereka ke mbak di rumah.

Rabu aku terpaksa masuk kerja (selain aku harus masuk karena ngajar dari pagi juga karena aku merasa kondisi mereka sudah baikkan), seharian berkali-kali aku nelp rumah dan ternyata fillingku tepat mereka kondisinya sudah baikan. Panas sudah tidak tinggi (masih anget), sudah nggak sering muntah lagi dan nggak serewel tadinya. Mulai rabu malam mereka sudah mulai tidur nyenyak.

Hari ini (3 Maret) kondisi mereka suda pulih, bahkan hari minggu kemaren aku ajak mereka main-main di plaza, aku biarkan mereka bermain sepuasnya. Kami pergi ke sana khusus untuk mereka bermain. Sekarang yang musti diperhatikan adalah pola makan Ian yang belum pulih bener…masih agak susah. Kalau Nathan masih seperti semula…kalau ada orang tuanya susah banget makan…dan maunya makan kalau diajak jalan-jalan.

Ohya…beberapa hari sejak mereka sakit, Nathan setiap sore selalu minta jalan-jalan sore naik motor, sulit banget ngasih perngertian ke dia kalau dia belum sehat betul (masih aget) dan kondisi hujan/gerimis. Kalau dibilang “mas tuh masih hujan” dia nyahutinnya “pake mantol aja” atau “pake payung dong”…wah pinter juga dia… tapi tetap nggak saya kasih jalan-jalan dan akhirnya nangislah dia. Makanya kemerin minggu aku paksa mas Arif ngajak mereka jalan-jalan ke plaza mumpung cuaca cerah dan kami lagi santai.

Seomga mereka senantiasa sehat dan tumnbuh dengan optimal. Amin…

Anakku 2-2nya sakit..

Februari 25, 2008 oleh elismurti

Sedih banget anak2ku 2-2nya sakit. Gejala sakitnya sudah sejak hari jumat siang, jumat sore mulai aku kasih sanmol untuk nurunin panasnya. Ian yang rewel banget. Awalnya mereka batuk-batuk dan anget..tapi lama-lama pilek. Sabtu pagi aku beli mucopec untuk ngobatin batuknya. Mungkin karena nggak enak badan Ian mulai berkurang minumnya.  Kalau Nathan masih nggak begitu kelihatan sakitnya, masih lincah dan beraktifitas normal. Cuma kalau dipegang kepalanya dia anget.

Mulai sabtu sudah nggak pake AC, banyakin minum air putih anget dan kurangi aktifitas di luar rumah, karena di luar udara dingin dan lembab. Tapi ternyata keadaan sakitnya makin nggak terkontrol…sabtu malam aku sudah lek-lekan njagain mereka karena rewelnya gantian, jadinya nggak ada kesempatan istirahat, secara mereka nggak mau dipegang bapaknya. Puncak rewel hari sabtu malam, sejak sore mereka suah untuk tidur, mungkin karena mereka kecapekan juga karena efek obat mereka akhirnya tidur, tapi tetap tidur yang nggak tenang. Aku tetap nggak bisa tidur sama sekali….

Jam 12-an Nathan muntah setelah batuk..setelah muntah dia kembali tidur tapi sebelumnya sempat namuk dia karena nggak mau ganti baju dan celana padahal basah kena muntahan…setelah tidur agak lama (tapi tetap tidur yang tidak tenang…) jam 1/2 2-an aku pegang badannya…ya ampun puanas banget, aku termo hampir 39 der cel…wah harus minum obat nih…secara aku takut kenapa-kenapa..aku bujuk dia untuk minum obat. Akhirnya nathan mau bangun tapi malah nangis dan minta mandi…YA AMPUN jam segini mau mandi??? aku bujuk-bujuk agar dibasuh muka aja..tapi tetap nggak mau…akhirnya aku buka bajunya dan aku guyur badannya pake air anget…aku pikir sekalian aja untuk kompres…untung dia manut aja nggak berlama-lama mandinya…waktu mau pake baju dia nggak mau pake baju yang diambilin bapaknya, dia minta baju yang bagua..yang baru…wah aku shok banget dengan permintaan dia itu…aku dan bapaknya sempat brpandangan dan heran..ada apa nih kok permintaannya aneh…ach..sudahlah..akhirnya kita pakein baju yang bagus. Setelah itu minum obat dan tanpa rewel dia tidur pules sampai pagi…

Ian juga resel..panasnya mencapai 39 der cel…dan sempat muntah juga…jam 4-an aku kasih obat dan kembali dia tidur pules…

Senin pagi ini setelah aku buka lab aku jam 8an ijin mau bawa anak2 ke dokter…kata dokter Ian radang tenggorokan dan Nathan flu batuk biasa. Sepulang dari dokter Nathan langsung minum obat dan minta tidur sedangkan Ian sudah tidur di jalan. Jadi sambil ngelonin mereka aku tidur juga…lumayan bisa tidur 2 jam-an…. Aku kembali ke sekolah jam 1/2 2-an…hehehe aku curang banget ya…nggak mau rugi bener…

Aku sangat berharap nanti malam mereka bisa tidur nyenyak…jadinya aku juga bisa tidur nyenyak juga…hehehe… Anak2ku jangan lama-lama ya sakitnya….sepet sembuh ya…kasian banget kau nak…

hati-hati sekarang lagi musim penyakit..

Februari 21, 2008 oleh elismurti

Biasanya musim tuh ya musim durian, mangga, rambutan atau musim hujan atau kemarau eh…lha kok ini musim penyakit..lha piye to iki..hehehe

Memang akhir-akhir ini banyak orang-orang di sekitar kita yang sedang sakit. Dan kebanyakan yang sakit adalah anak-anak. Sakitnya berkisar antara panas, batuk dan pilek…karena memang kayaknya cuaca yang mendukung untuk terjadinya penyakit itu.  Di tetanggaku sudah ada 3 anak yang anaknya (balita) sakit panas sudah berhari-hari disertai batuk dan pilek…karena nggak sembuh-smbuh sampai tes darah segala… Bahkan kata temen yang anaknya sakit, waktu mereka ke dokter di sana pasien anak-anak banyak banget…

Sempat kawatir juga untuk kesehatan anak-anakku…untuk antisipasi agar mereka nggak ketularan:

1. Pesen ke mbaknya jangan biarkan anak kita main deket-deket sama anak-anak yang lagi terjangkit penyakit.

2. Perhatikan kualitas dan kuantitas makannya, sebisa mungkin anak kita makan yang bergizi dan cukup porsinya.

3. Minum vitamin untuk menjaga ketahanan tubuhnya. Juga berikan madu (yang asli madu..banyak madu ayng aspal), karena madu dipercaya banayk mengandung vitamin untuk ketahanan tubuh. Kalau anak mau berikan mereka buah-buahan.

4. Jangan biarkan anak kita berlama-lama main di luar…karena cuaca yang nggak mendukung…dingin dan lembab.

Syukurlah anak-anakku tetap sehat. Semoga mereka tetap terjaga kesehatannya.

Sempat kawatir juga beberapa hari yang lalu Nathan sempet agak anget dan waktu aku tanya apakah dia pusing, dia bilang “iya pusing”, hehehe secara aku nggak yakin apakah dia yakin dengan apa yang dia rasaka itu…tapi aku sempet kawatir..tapi untunglah nggak berlanjut.

Aku Menangis untuk Adikku

Februari 21, 2008 oleh elismurti

Aku Menangis untuk Adikku

Penulis : Ratu Karitasurya

 

KotaSantri.com : Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bamboo di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”  Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! “ 

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.

 

Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

 

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di  ertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan  menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

 

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

 

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima  ntuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

 Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik. Hasil yang begitu baik.”  

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bias membiayai keduanya sekaligus?”

 

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup  embaca banyak buku.”

 Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.  

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak. Aku berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan  sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

 Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku, “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang.” 

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

 

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

 

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar  sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

 

Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?”

 

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan

menertawakanmu? ”

 

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. “

 

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua  adis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

 

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke  alam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

 

Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

 

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada  angannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”

 

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” aku menanyakannya.

 

“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Di tengah kalimat itu ia berhenti.

 

Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

 

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku  engundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, dia mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

 

Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

 

Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, lalu masuk rumah sakit.

 

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat

kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

 

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti  apa yang akan dikirimkan?”

 

Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar kata-kataku yang pepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

 

Lalu ia berkata, “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

 

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” 

Tanpa berpikir, ia menjawab, “Kakak saya.”

 

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

 

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”

 

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

 

Diterjemahkan dari “I Cried for My Brother Six Times”

Kisah sebungkus biskuit dan ibu muda

Februari 21, 2008 oleh elismurti

Kisah sebungkus biskuit dan ibu mudaDiceritakan: Di ruang tunggu salah satu bandara, seorang ibu muda terlihat tengah menunggu pesawat yang akan membawanya terbang. Karena harus menunggu keberangkatan cukup lama, ia memutuskan untuk membeli buku. Ia juga membeli sebungkus biskuit sebagai camilan sambil membaca buku. Itu memang lebih baik sebagai pengusir kejenuhan.Si ibu muda duduk di salah satu kursi ruang VIP. Dengan menyadarkan tubuhnya yang terlihat terawat dengan baik, ia mulai membaca buku yang baru dibeli. Karena mungkin isi bukunya menarik, si ibu muda langsung saja tersihir untuk tetap fokus pada bacaan. Dia seperti tidak ingin terganggu oleh kesibukan di sekitarnya.Di kursi sebelah, yang cuma dipisahkan meja kecil, duduk seorang pria yang lantas saja sibuk membuka majalah dan larut membaca. Di atas meja tampak sebungkus biskuit. Untuk beberapa saat, si ibu muda tak terusik oleh kehadiran pria lumayan tampan di sebelahnya. Ia hanya sempat melirik sejenak memastikan orang yang duduk di sebelahnya adalah orang baik-baik. Matanya juga sempat menangkap bungkus biskuit di atas meja.Si ibu muda mulai terusik ketika ia mengambil sepotong biskuit dari bungkusnya di atas meja. Si pria pun ikut mengambil sepotong. Untuk kedua kalinya pun begitu. Si ibu muda jadi merasa terganggu oleh perilaku pria di sebelahnya. Ia pun berguman saking dongkolnya: “Huh…! Menyebalkan! Ingin rasanya kutampar saja mukanya!”Sialnya, kejadian itu tidak berlangsung satu-dua kali. Tapi setiap si ibu muda mengambil sepotong biskuit, si pria pun selalu ikut mengambil sepotong. Hampir amarah si ibu muda meledak kalau tidak ingat sedang berada di ruang VIP. Ia begitu geram melihat perbuatan pria yang dianggapnya sangat tidak sopan.Ketika biskuit tinggal sepotong, si ibu muda bergumam dalam hati: “Coba saja! Ingin lihat apa yang akan dilakukannya.”Konyolnya, tanpa merasa jahil, si pria itu mengambil biskuit tersebut dan membelahnya menjadi dua, ia mengambil separoh dan mempersilahkan si ibu muda untuk menikmati sisa parohannya. Walau si pria tersenyum simpatik menawarkan, namun hati si ibu muda sudah tidak tahan. “Keterlaluan!” rutuknya dalam hati sambil bergegas mengemasi barang dan pindah ke boarding room. Ibu muda merasa harga dirinya telah dipermainkan. Benar-benar menjijikkan laki-laki yang tidak kenal sopan santun itu!Masih dengan kegeraman hati oleh kejadian yang baru dialaminya, akhirnya si ibu muda berusaha lebih menangkan diri setelah duduk di dalam pesawat yang akan membawanya pergi. Dia pikir, lebih cepat berangkat, lebih cepat pula melupakan si pria “kurang ajar”.Minat untuk melanjutkan bacaan buku yang sempat tertunda tadi sudah hilang. Ibu muda ingin mencoba tidur saja. Maka, ia membuka tas jinjing miliknya untuk mengambil kaca mata. Betapa terkejutnya dia. Ternyata biskuit yang dibelinya tadi masih utuh dalam tas jinjingnya. Melihat itu mulut si ibu muda kontan ternganga dengan mata besar seperti tak percaya. Rasa malu, merasa bersalah, dan menyesal menyesak dada hingga membuatnya sulit bernafas.Ternyata pria tadi membagi biskuit kepunyaannya kepada si ibu muda tanpa merasa marah, terganggu, ataupun merasa rugi. Sementara si ibu muda, tanpa menyelidiki terlebih dulu biskuit itu milik siapa, sudah begitu marah saat sesamanya manusia turut menikmati kebahagiaannya. [www.blogberita.com]

Berapa gaji bapak?

Februari 21, 2008 oleh elismurti

Berapa Gaji Bapak??

Seperti biasa Andon, Manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sari, putri pertamanya yang baru duduk di
kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.

Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur ?” sapa Andon sambil mencium anaknya.

Biasanya Sari memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Bapak menuju ruang keluarga, Sari menjawab, “Aku
nunggu Bapak pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Bapak?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Bapak?
Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sari singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Bapak bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Bapak masih lembur. Jadi, gaji Bapak
dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sari berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Bapaknya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andon beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sari berlari mengikutinya. “Kalo
satu hari Bapak dibayar Rp.400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa
digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andon.

Tetapi Sari tidak beranjak. Sambil menyaksikan Bapaknya berganti
pakaian, Sari kembali bertanya, “Pak, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,-
enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam
begini? Bapak capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Pak…”

Kesabaran Andon pun habis. “Bapak bilang tidur!” hardiknya
mengejutkan Sari. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andon nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sari di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sari didapati
sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andon berkata,
“Maafkan Bapak, Nak, Bapak sayang sama Sari. Tapi buat apa sih minta
uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan
Rp.5.000,- lebih dari itu pun Bapak kasih” jawab Andon.

“Pak, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andon lembut.

“Aku menunggu Bapak dari jam 8. Aku mau ajak Bapak main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Ibu sering bilang kalo waktu Bapak itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Bapak. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.
15.000,- tapi karena Bapak bilang satu jam Bapak dibayar Rp. 40.000,- maka
setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,-
makanya aku mau pinjam dari Bapak” kata Sari polos.

Andon pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya
bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru
menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak
cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya

Pengalaman lahiran dedek Ian

Februari 19, 2008 oleh elismurti

Masih sangat teringat jelas waktu mau lahiran dedek ian….

Karena memang harus dilahirkan secara caesar maka waktu itu kami sepakat ambil tanggal 14 februari untuk lahiran. Selain karena memang sudah waktunya bisa dilahirkan juga pas moment hari valentine.  

Sore hari tanggal 13 Februari (hari minggu) kami menuju RS Harapan Kita, malam itu aku harus sudah nginep di RS untuk persiapan caesar pagi harinya. Aku dapat kamar di ruang Menur nomernya lupa… di kamar itu sudah ada 2 pasien, yang satu sudah lahiran pagi harinya yang satunya lagi ibu-ibu yang harus bed rest karena kondisi kehamilan yang lemah. Malam itu aku tidur cukup nyenyak walau sering “diganggu” perawat yang ngecek kondisi perut dan kesehatanku, ngecek detak jantung calon baby, ngecek aku alergi obat-obatan nggak, ngecek darah dsb… Sejak jam 12 malam aku sudah harus puasa karena rencana jam 8 pagi aku caesar. Jam 4 pagi aku sudah dibangunin untuk persiapan caesar… di bagian anusku (sory…) dimasukkan cairan katanya biar aku BAB dan isi usus kosong. Perutku jadi mules dan benar..beberapa saat setelah itu aku berkali-kali ke toilet untuk BAB dan perutku terasa PLONG..kosong…. Setelah mandi aku nunggu sambil baca-baca majalah… juga sempet nggendong baby sebelah bed yang nangis jerit-jerit kelaparan mamanya pas di kamar mandi….

Jam 7an aku sudah diantar perawat menuju ruang oprasi….di depan ruang menur sudah menunggu mas Arif dan mbak Iis (mbak yang momong Nathan) yang rencananya mau nugguin aku caesar…

Baru sekitar jam 9-an aku di caesar…dokter Sutikno,SPOg datangnya telat karena kena macet. 

Entah kenapa oprasi yang sekarang ini aku merasa grogi banget nggak kayak waktu oprasi Nathan dulu. Kalau dulu aku merasa relaks dan enjoy saja, jadinya waktu disuntik bius di punggung prosesnya cepat aku disuntik sambil tiduran miringpun langsung bisa …tapi yang sekarang ini proses suntik cukup lama karena aku nggak bisa relaks jadinya susah nyari pembuluh darah di punggungnya..setelah dicoba berkali-kali tapi nggak bisa akhirnya aku harus disuntik sambil duduk dan membungkuk…sungguh suasanya jadi makin tegang…untung akhirnya bisa teratasi. Tapi tetap saja perasaanku nggak enak…aku nggak tahu kenapa. Perasaan itu terbawa sampai proses pembedahan…aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa tenang tapi sulit banget…

Sambil terlentang pasrah dan mencoba “menikmati” guncangan-guncangan akibat “perbuatan” para dokter aku berkali-kali membaca doa Bapa Kami dan Salam Maria. Akhirnya setelah dilakukan penekanan dan dorongan di bagian dada ke arah perut aku mendengar suara TANGISAN baby….ach…bayiku sudah lahir… Sesaat dokter memperlihatkan bayiku padaku…”ibu ini bayinya laki-laki, selamat ya bu” aku sangat bersyukur bayiku lahir sehat dan tak kurang satu apapun… Puji Syukur aku panjatkan pada Yesus.

Setelah “urusan” di ruang oprasi beres aku dibawa ke ruang pemulihan…di sana dingin banget dan lama…aku mencoba untuk tidur tapi nggak bisa… sampai akhirnya aku dibawa ke ruangan (menur).  Di luar sudah menunggu Mas Arif, Mbak Iis dan Bulik Yati. Aku tanya “mas lengkap kan?” dan dijawab “iya” wah..lega sekali….

Bayiku lahir dengan berat 2.96 kg dan panjang 49,6 cm (mas Nathan dulu beratnya 3,1 kg dan panjangnya 52 cm). Kalah sama mas Nathan, semoga saja nanti dipertumbuhannya dia nggak kalah dengan kakaknya..hehehe

Seperti yang dulu juga setelah oprasi aku nggak bisa tidur..padahal kata orang-orang kalau habis oprasi gitu bawaannya ngantuk…tapi aku nggak.. sampai sore juga tetap melek.

Selama masa pemulihan (nginep di RS) aku kurang bisa istirahat dengan nyaman masalahnya aku terserang flu jadinya sering batuk (flu ini sudah aku bawa sebelum oprasi). Wah bener-bener tersiksa kalau batuk menyerang…sakit banget di perut…berasa jahitan mau lepas aja…akibatnya aku jadi nggak bisa tidur dan istirahat…kalau mau batuk dikit aja aku nahan sampai mau nangis…. Aku mencoba menikmati semua yang aku rasakan… dengan membesarkan hati “nanti juga akan sembuh”.

Nggak berasa sekarang sudah 1 tahun kejadian itu berlangsung…nggak berasa…. sudah 1 tahun umur anakku… Nama lengkanya Antonius Ardyan Krisnawardhana panggilannya Dedk Ian.

Dedek Ian Ulang Tahun

Februari 19, 2008 oleh elismurti

Nggak terasa 1 tahun sudah Dedek Ian lahir, kayaknya belum lama aku lahiran…eh…ternyata dia sudah 1 tahun sekarang….

Untuk merayakan ulang tahunya sengaja kami tidak mengadakan acara ngundang tetangga, karena toh dedek Ian juga belum tahu, jadi kami sekedar beli kue tart trus niup lilin dan makan malam bersama kel pakdhe saja. Biar acara tambah rame aku beli banyak balon trus aku tempel di tembok….

Pas niup lilin mas Nathan yang paling kelihatan senang, dia yang nyanyinya keras dan dia juga yang niup lilinnya…dedek Ian ketawa-ketawa sambil ikutan tepuk tangan dan lonjak-lonjak… Sempat terjadi insiden waktu motong kue…gini ceritanya aku pegang pisau sama dedek Ian rencana mau motong kue tapi mas nathannya ngebet juga pengen jadinya antara dedek Ian dan mas Nathan jadi rebutan…wah.. sempat ngeri .. untung dedek Iannya mau nglepas pisaunya. jadinya yang motong mas Nathan dulu baru selanjutnya dedek Ian… Ach..senangnya anak-anakku tumbuh sehat dan ceria.

Harapanku semoga anak-anakku tumbuh sehat dan kami sebagai orang tuanya senantiasa penuh berkat dan bisa memenuhi segala kebutuhannya.